TEORI KEPRIBADIAN ERICH FROMM
A.
BIOGRAFI
SINGKAT ERICH FROMM
Erich
Fromm lahir di Frankfurt, Jerman pada tanggal 23 Maret 1900. Di kenal luas
sebagai tokoh psikoanalisis dan filosof sosial. Fromm tinggal di Swiss dan
meninggal di Muralto, Swiss pada tanggal 18 Maret 1980. The Art of Loving
adalah karyanya yang mendapat best seller dan To Have and To be adalah karyanya
yang terrahir.
B. TEORI KEPRIBADIAN ERICH FROMM
Teori
Erich Fromm mengenai watak masyarakat mengakui asumsi transmisi kebudayaan
dalam hal membentuk kepribadian tipikal atau kepribadian kolektif, namun fromm
juga menjelaskan fungsi-fungsi sosio historik dari tipe kepribadian tersebut
yang berhubungan kebudayaan tipikal dari suatu kebudayaan obyektif yang di
hadapi suatu masyarakat untuk merumuskan hubungan tersebut secara efektif,
suatu masyarakat perlu menrjemahkan kedalam unsure-unsur watak (traits) dari
individu anggotanya agar mereka bersedia melaksanakan apa yang harus di
lakukan.
Fromm membagi sistem struktur
masyarakat menjadi tiga bagian berdasar karakter sosialnya:
1. Sistem A, yaitu masyarakat-masyarakat pencinta kehidupan. Karakter sosial masyarakat ini penuh cita-cita, menjaga kelangsungan dan perkembangan kehidupan dalam segala bentuknya. Dalam system masyarakat yang seperti ini, kedestruktifan dan kekejaman sangat jarang terjadi, tidak didapati hukum fisik yang merusak. Upaya kerja sama dalam struktur sosial masyarakat seperti ini banyak di jumpai.2. Sistem B, yaitu masyarakat non-destruktif-agresif. Masyarakat ini memiliki unsure dasar tidak destruktif, meski bukan hal yang utama, masyarakat ini memandang keagresifan dan kedestruktifan adalah hal biasa. Persaingan, hierarki merupakan hal yang lazim ditemui. Masyarakat ini tidak memiliki kelemah-lembutan, dan saling percaya.3. Sistem C. yaitu masyarakat destruktif. Karakter sosialnya adalah destruktif, agresif, kebrutalan, dendam, penghianantan dan penuh dengan permusuhan. Biasanya pada masyarakat seperti ini.
Fromm juga menyebutkan dan
menjelaskan tipe karakter social yang di temukan dalam masyarakat dewasa ini,
yakni:
1.Tipe Reseptif (mengharap dukungan dari pihak luar)
2.Tipe Eksploitasi (memaksa orang lain untuk mengikuti keinginannya)
3.Tipe Penimbunan (suka mengumpulkan dan menimbun barang suatu materi)
4.Tipe Pemasaran (suka menawarkan dan menjual barang)
5.Tipe Produktif ( karakter yang kreatif dan selalu berusaha untuk menggunakan barang-barang untuk suatu kemajuan)
6.Tipe Nekrofilus –biofilus (nekrofilus orang yang tertarik dengan kematian, biofilus: orang yang mencintai kehidupan). Personal hubungan seseorang yang masyarakat merupakan keprihatinan besar Fromm.
Menurut Fromm ada validiltas
proposisi-proposisi berikut:
1). Manusia mempunyai kodrat esensial bawaan.2). Masyarakat diciptakan oleh manusia untuk memenuhi kodrat esesnsil ini.3). Tidak satu pun bentuk masyarakat yang pernah diciptakan berhasil memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar eksistensi manusia, dan4). Eksistensi manusia adalah mungkin menciptakan masyarakat semacam itu.
A. KONDISI EKSISTENSI MANUSIA
a. Dilema Eksistensi
menurut
fromm, hakekat manusia juga bersifat dualistic.
Paling
tidak ada empat dualistic didalam diri manusia:
1.
Manusia sebagai binatang dan sebagai manusia
Manusia sebagai
binatang memiliki banyak kebutuhan fisiologik yang harus dipuaskan, seperti
kebutuhan makan, minum, dan kebutuhan seksual. Manusia sebagai manusia memiliki
kesadaran diri, berfikir, dan berimajinasi. Kebutuhan manusia itu terwujud
dalam pengalaman khas manusia meliputiperasaan lemah lembut, cinta, kasihan,
perhatian, tanggung jawab, identitas, intergritas, sedih, transendensi,
kebebasan, nilai, dan moral.
2. Hidup dan mati
Kesadaran diri
dan fikiran manusia telah mengetahui bahwa dia akan mati, tetapi manusia
berusaha mengingkarinyadengan meyakini adanya kehidupan sesudah mati, dan
usaha-usaha yang tidak sesuai dangan fakta bahwa kehidupan adan berahir dengan
kematian.
3. Ketidak sempurnaan dan kesempurnaan
Manusia
mampu mengkonsepkan realisasi-diri yang sempurna, tetapi karena hidup itu
pendek kesempurnaan tidak dapat dicapai.
4. Kesendirian dan kebersamaan
Manusia
adalah pribadi yang mandiri, sendiri, tetapi manusia juga tidak bias menerima
kesendirian. Manusia, kehidupan kematian, ketidaksempurnaan dan kesempurnaan,
kesendirian dan kebersamaan, merupakan kondisi dasar eksistensi manusia.
Ada
dua cara menhindari dilema eksistensi yaitu:
1. Menerima otoritas dari luar dan tunduk kepada penguasa dan penyesuaikan diri dengan masyarakat.2. Orang bersatu dengan orang lain dalam semangat cinta dan kerja sama, menciptakan ikatan dan tanggung jawab bersama dari masyarakat yang lebih baik.
B. KEBUTUHAN MANUSIA
Kebutuhan
manusia menurut Fromm meliputi dua kelompok kebutuhan: Pertama, kebutuhan untuk
menjadikan bagian dari sesuatu dan menjadi otonom, yang terdiri dari kebutuhan
Ralatedness, Rootedness, Transcendence, Unity,dan Identity. Kedua, kebutuhan memahami
dunia,mempunyai tujuan dan memanfaatkan sifat unik manusia,yang terdiri dari
kebutuhan Frame of devation, Excitation-stimulation, dan Effectiveness.
a. Kebutuhan Kebebasan dan Keterikatan
1). Keterhubungan (relatedness): Kebutuhan mengatasi perasaan kesendirian dan terisolasi dari alam dan dari dirinya sendiri. Kebutuhan untuk bergabung dengan makhluk lain yang dicintai,menjadi bagian dari sesuatu.Hubungan paling memuaskan bisa positif yakni hubungan yang didasarkan pada cinta, perhatian, tanggung jawab, penghargaan, dan pengertian dari orang lain,bisa negatif yakni hubungan yang didasarkan pada kebutuhan atau kekuasaan.
2). Keberakaran (rootedness): Kebutuhan keberakaran adalah kebutuhan untuk memiliki ikatan-ikatan yang membuatnya merasa nyaman di dunia (merasa seperti di rumahnya). Keberakaran adalah kebutuhan untuk mengikat diri dengan kehidupan. Setiap orang dihadapkan dengan dunia baru, dimana dia harus tetap aktif dan kreatif mengembangkan perasaan. Dengan demikian dia akan tetap merasa aman, tidak cemas, berda di tengah-tengah dunia yang penuh ancaman. Orang dapat membuat ikatan fiksasi yang tidak sehat, yakni mengidentifikasikan diri dengan sesuatu situasi, dan tidak mau bergerak maju untuk membuat ikatan baru dengan dunia baru.
3). Menjadi Pencipta (transcendency): Karena individu menyadari dirinya sendiri dari lingkungannya, mereka kemudian mengenali betapa kuat dan menakutkan alam semesta itu, yang membuatnya merasa tak berdaya. Orang ingin mengatasi perasaan takut dan ketidakpastian menghadapi kemarahan dan ketakmenentuan semesta. Transedensi bisa positif (menciptakan sesuatu) atau negatif (menghancurkan sesuatu).
4). Kesatuan (unity): kebutuhan untuk mengsatasi aksistensi keterpisahan antara hakikat binatang dan non binatang dalam diri seseorang.
5). Identitas (identity): Kebutuhan untuk menjadi “aku”, kebutuhan untuk sadar dengan dirinya sendiri Manusia harus merasakan dapat mengontrol nasibnya sendiri, harus bisa membuat keputusan, dan merasa bahwa hidupnya nyata-nyata miliknya sendiri.
b. Kebutuhan untuk memahami dan beraktivitas
1). Kerangka orientasi (frame of orientation): Orang membutuhkan peta mengenai dunia sosial dan dunia alaminya; tanpa peta itu dia akan bingung dan tidak mampu bertingkah laku yang ajeg. Manusia selalu dihadapkan dengan fenomena alam yang membingungkan dan realitas yang menakutkan, mereka membutuhkan hidupnya menjadi bermakna. Kerangka orientasi adalah seperangkat keyakinan menganai eksistensi hidup, perjalanan hidup-tingkah laku bagaimana yang harus dikerjakannya, yang mutlak dbutuhkan untuk memperoleh kesehatan jiwa.
2). Kerangka kesetiaan (frame of devotion): Kebutuhan untuk memiliki tujuan hidup yang mutlak. Orang membutuhkan sesuatu yang dapat menerima seluruh pengabdian hidupnya, sesuatu yang membuat hidupnya menjadi bermakna. Kerangka pengabdian adalah peta yang mengarahkan pencarian makna hidup, menjadi dasar dari nilai-nilai dan titik puncak dari semua perjuangan.
3). Keterangsangan-stimulasi (excitation-stimulation): Kebutuhan untuk melatih system syaraf, untuk memanfaatkan kemampuan otak. Stimuli yang tidak cukup direaksi harus direspon secara aktif, produktif, dan berkelanjutan.
4). Keefektivan (effectifity): Kebutuhan untuk menyadari aksistensi diri melawan perasaan tidak mampu dan melatih kompetensi/kemampuan.
C.
MEKANISME
MELARIKAN DIRI DARI KEBEBASAN
Menurut
Fromm, normalitas adalah keadaan optimal dari pertumbuhan (kemandirian) dan
kebahagiaan (kebersamaan) dari individu.
Pada
dasarnya asa dua cara untuk memperoleh makna dan kebersamaan dalam diantaranya:
1). Mencapai kebebasan positif yakni berusaha menyatu dengan orang lain, tanpa mengorbankan kebebasan dan integritas pribadi. Oleh Fromm disebut pendekatan humanistic, yang membuat orang tidak merasa kesepian dan tertekan, karena semua menjadi saudara dari yang lain.
2). Memperoleh rasa aman dengan meninggalkan kebebasan dan menyerahkan bulat-bulat individualitas dan intergritas diri kepada sesuatu (bisa orang atau lembaga) yang dapat memberi rasa aman.
1). Mencapai kebebasan positif yakni berusaha menyatu dengan orang lain, tanpa mengorbankan kebebasan dan integritas pribadi. Oleh Fromm disebut pendekatan humanistic, yang membuat orang tidak merasa kesepian dan tertekan, karena semua menjadi saudara dari yang lain.
2). Memperoleh rasa aman dengan meninggalkan kebebasan dan menyerahkan bulat-bulat individualitas dan intergritas diri kepada sesuatu (bisa orang atau lembaga) yang dapat memberi rasa aman.
Cara
memperoleh rasa aman dengan berlindung di bawah kekuatan lain tersebut Fromm
mekanisme pelarian.
Ada
tiga mekanisme pelarian yang terpenting, yakni otoritarianisme, destruktif, dan
konfomitas.
a.
Otoritarianisme
(authorianism)
Kecenderungan
untuk menyerahkan kemandirian diri dan mengabungkannya dengan seseorang atau
sesuatu diluar dirinya, untuk memperoleh kekuatan yang dirasakan tidak
dimilikinya.
b.
Perusakan
(destructiveness)
Destruktif
berakar pada perasaan kesepian, isolasi, dan tak berdaya. Destruktif mencari
kekuatan tidak melalui membangun hubungan dengan pihak luar, tetapi melalui
usah membalas/merusak kekuatan orang lain, dan individu.
c.
Penyesuaian
(conformity)
Bentuk
pelarian dari perasaan kesepian dari isolasi berupa penyerahan individualitas
dan menjadi apa saja yang di inginkan kekuatan dari luar.
KARYA-KARYA
ERICT FROMM
§ Escape
from Freedom (US), Fear of Freedom (UK) (1941)
§ Man
for himself, an inquiry into the psychology of ethics (1947)
§ Psychoanalysis
and Religion (1950)
§ Forgotten
language; an introduction to the understanding of dream, fairy tales, and myths
(1951)
§ The
Sane Society (1955)
§ The
Art of Loving (1956)
§ Sigmund
Freud’s mission; an analysis of his personality and influence (1959)
§ Psychoanalysis
and Zen Buddhism (1960)
§ May
Man Prevail? An inquiry into the facts and fictions of foreign policy (1961)
§ Marx’s
Concept of Man (1961)
§ Beyond
the Chains of Illusion: my encounter with Marx and Freud (1962)
§ The
Dogma of Christ and Other Essays on Religion, Psychology and Culture (1963)
§ The
Heart of Man, its genius for good and evil (1964)
§ Socialist
Humanism (1965)
§ You
Shall BE as Gods: a radical interpretation of the Old Testament and is
tradition (1966)
§ The
Revolution of Hope, toward a humanized technology (1968)
§ The
Nature of Man (1968)
§ The
Crisis of Psychoanalysis (1970)
§ The
Anatomy of Human Destructiveness (1973)
§ To
Have or to Be? (1976)
§ Greatness
and Limitation of Freud’s Thought (1979)
§ On
Disobedience and other essays (1984)
§ The
Art of Being (1993)
§ The
Art of Listening (1994)
§ On
Being Human (1997)



